Amuntai,
01 February 2024
Hai-hai!
Selamat datang di bulan Februari. Tulisan pertama untuk membuka cerita di bulan
ini. Ada kejadian yang bikin seneng, hari ini pertama kalinya dapat gajihan
dari ngajar TPA. Total honor guru yang didapat berjumlah Rp.144.000. Ada
perasaan haru yang dirasa, ternyata seperti ini rasanya gajihan. Kuberikan
sedikit kepada emak sebanyak Rp. 50.000. Nominal yang terbilang sedikit jika
dibandingkan dengan pemberian kakak kepada emak. Gapapa. Sedikit demi sedikit.
Semoga berkah. Emak sempat menolak saat ku berikan uang gajih pertamaku.
Katanya, ga usah, kalau-kalau nanti kamu banyak bayaran. Gapapa, ma, ucapku.
Sekali-kali. Moga nanti bisa beri emak lebih banyak lagi. Emak senyum, senang
tak tergambar rasanya. Rasa senang melihat raut wajah emak yang senang,
setidaknya menghilangkan rasa cemasku akan hari esok. Selama masih ada emak, ku
rasa dunia akan baik-baik saja. Tuhan, terimakasih banyak atas nikmat yang kau
berikan.
Kemarin,
ketika emak bilang kalau dia kembali batuk berdarah, duniaku hampir runtuh.
“Tuhan, cobaan apalagi yang kau berikan?” Keluhku dalam bentuk pertanyaan.
Namun ternyata hari ini kau berikan rasa bahagia dan tenang. Ah, tuhan memang
suka bikin kejutan. Ah iya, perihal kemarin, aku sempat dilema. Apakah aku
harus memanjakan egoku untuk tidak datang memeriksakan emak ke puskesmas
terdekat atau memilih menekan egoku untuk membawa emak memeriksakan dirinya.
Apa yang membuatku dilema? Dikarenakan pelayanannya, khususnya dokter poli umum
yang perkataannya kadang menyakiti hati dan mental. Aku khawatir. Mental emak
akan lemah jika dikata-katain kalau penyakit beliau itu menular. Padahal udah
dinyatakan sembuh kok. Namun, aku memilih pilihan yang kedua. Bodo amatlah
kalau dokternya bilang apa. Yang penting emakku bisa sehat kembali.
Aku
berusaha menghilangkan prasangka-prasangka negatif yang ku sematkan kepada
dokter itu. Menggantinya dengan prasangka-prsangka baik, yang ku yakini jika
ternyata prasangkaku itu salah, maka aku tidak berdosa, jadi kupilih prasangka
yang baik saja, sambil merapal do’a semoga beliau menjadi pribadi yang lebih
baik kedepannya. Aku juga menyempatkan berdoa tatkala masih menunggu antrian,
berdoa agar setidaknya bukan dokter itu yang
memeriksa emakku, melainkan dokter
yang disebelah ruangan, namun, nyatanya tuhan berkata lain. Tetap saja
pilihan-Nya adalah dokter yang mestinya ku hindari. Aku hanya
bisa berserah dan berpasrah.
Selama
sesi tanya jawab dengan pasien, ada saja ternyata perkataan-perkataan yang
menurutku sangat kurang layak dilontarkan oleh dokter itu. Menyakitkan rasaku.
Aku mengkhawatirkan perasaan emak. Aku hanya bisa berdoa agar emak tidak
terlalu memasukkan ke dalam hati, namun, overall, lumayan baik, cuman lebih ke
banyak bacot aja mah si dokter itu. Tapi, yasudahlah, yang penting akhirnya
emak bisa periksa kesehatan, trus kata dokter banyakin makan buah pepaya, biar
luka-luka yang ada di paru-paru emak bisa cepat pulih, soalnya kemarin pas cek
rongxen, paru-paru emak itu memang udah lumayan banyak sekali bekas-bekasnya.
Wah, kalau mengingat kejadian-kejadian yang lalu itu kadang bikin hati jadi
teriris, gimana struggling emak buat ngadepin si penyakit TBC paru ini. Dan
sekarang, melihat beliau bisa beraktifitas walau tak sepenuhnya seperti beliau
sehat, aku sangat begitu bersyukur, masih bisa ngobrol dengan emak, berbagi
cerita lucu, curhat ke emak, main kucing dengan emak, ke pasar bareng emak, aktifitas-aktifitas
kecil yang kadang kita sepelein, yang kita gak bakalan tau akan sampai kapan
ini akan terus bisa dilakuin. Selagi mereka ada, aku berusaha lakuin yang
terbaik. Selagi mereka ada, aku berusaha untuk selalu bisa dan ada. Karena, mau
kapan lagi bukan?
O,iya,
aku dapet kabar juga hari ini, kalau ponakanku Nor Asyifa Kamalia a.k.a Syifa
mendapatkan juara harapan 1 tahfidz yang diselenggarakan di Sekolah IUNS. Turut bangga atas capaian prestasinya. Semoga
selalu menjadi anak yang taat dan berbakti kepada orangtua. Kuputuskan untuk
memberikan cenderamata bikinanku, alias gantungan kunci dari rajut, yang
kutitipkan dengan abinya ketika datang mengambil uang gajihan untuk ummi.
Semoga aja dia suka, xixi.
Segitu
aja dulu cerita hari ini, semoga ada banyak kebahagiaan menghampiri di bulan
ini. Banyak sehatnya, banyak senangnya. Aaamiiinn. Jangan lupa pilih Anis
Baswedan, hohohoo.
Salam
hangat
@thiyyaeladzkia
Orang
yang menyayangi dirinya sendiri

Komentar
Posting Komentar