Amuntai,
31 January 2024
Que
sera, sera.
Ya,
yang terjadi, biarlah terjadi. Beberapa pengalaman hidup yang ku alami pada
akhir-akhir ini, mengajarkanku untuk lebih dewasa dalam bersikap, menata hati
dan bersabar. Seperti halnya pengalaman bekerja disebuah instansi, pengalaman
berinteraksi dengan orang-orang yang berada di luar lingkup kita, orang-orang
yang belum pernah ditemui sebelumnya. Ada perasaan kikuk, gugup dan
perasaan-perasaan yang sekawan dengannya. Tentu saja. Wajar. Berproses ’kan? Ya
perlu waktu.
Di
awal tahun 2024 ini dibuka dengan beberapa masalah juga yang terjadi, khususnya
gawaiku, -yang kini mungkin sudah berusia kurang lebih 5 tahun bersamaku-,
mengalami serangan penyakit yang membuat setengah layarnya teramputasi. Sakit
memang. Tak bisa ku apa-apakan, selain berpasrah dengan keadaan. Sebab
mengobatinya juga memerlukan biaya yang cukup besar. Pekerjaan ku kini jadi
terbatas. Penelitianku yang rencananya di bulan Januari, nyatanya kandas.
Mungkin, Tuhan punya rencana lain.
Pada
tahun ini juga, perasaan fomo (fear of missing out) itu ternyata masih
ada. Buktinya, saat ku lihat teman-temanku yang dulu membersamai dalam mencapai
cita, kini satu persatu melangkah lebih dulu. Ada juga yang melangkah pesat,
hingga aku payah mengejar. Berujung sesal. Sedih. Karna ketakutan akan
kesendirian.
Pertanyaan-pertanyaan
seperti, “Kelak, aku jadi apa ya? Kenapa aku begitu sulit memahami apa yang
sebenarnya aku mau? Kira-kira di masa yang akan datang, aku bisa berdamai
dengan diri sendiri tidak, ya? Aku bisa ngebahagiain orangtuaku tidak, ya? Aku
bisa buat bangga mereka tidak, ya? Mengapa sekarang rasanya aku seperti
berjalan di tempat, ya? Mengapa teman-temanku begitu mudah menjalani alur
kehidupannya, ya?” kerap sekali datang tatkala aku sendiri. Walau
sebenarnya aku juga tau, kalau jalan yang disusuri saat ini memang berbeda, tak
bisa disamakan. Ya otomatis berbeda pula tujuannya. Sebenarnya, tujuan aku
hidup di dunia ini apa? Menjadi hamba-Nya yang taat? Apakah hal tersebut sudah
dilakukan? Nyatanya belum sepenuhnya. Mengerjakan kewajiban saja kadang masih
lalai. Yah… kau sebenarnya sudah tau, tapi berpura-pura tidak tau dan
kehilangan arah saat semuanya tak sesuai dengan kehendak. Mengapa? Coba kau
tanyakan sendiri pada dirimu.
Kebingungan.
Disebabkan terlalu banyak hal yang ingin di raih dalam satu waktu. Pikirkan
saja. Hal itu melelahkan diri dan pikiran khususnya. Coba sejenak bernafas.
Biarkan pikiran-pikiran itu berterbangan. Dan katakan pada diri bahwa “Kamu
bisa melewatinya.”
Disebalik
perasaan-perasaan tidak nyamanku, ada pula perasaan-perasaan yang membuatku
tidak hentinya mengucapkan syukur. Masih diberi kesempatan hidup. Keluarga yang
lengkap. Rumah yang nyaman untuk tempat menetap. Laptop yang ku gunakan saat
ini untuk menulis tulisan ini. Jari-jemari yang sehat dengan lihainya
menari-nari di atas keyboard. Gawai yang masih bisa digunakan, walau tidak
sepenuhnya bekerja dengan baik seperti biasa, telinga masih mendengar, mata
masih bisa melihat penciuman yang tidak tersumbat, pakaian yang menutup aurat,
kucing peliharaan yang berjumlah empat ekor -ku sebut mereka Utih, Uning,
Syello dan Belang- mengingat-ingat hal itu sejenak bisa membuat pikiran kita
setidaknya sedikit lebih tenang.
Dirimu
juga tau, kalau dirimu sebenarnya terlalu menggebu-gebu dalam urusan dunia.
Serba ingin cepat-cepat. Padahal semuanya sudah ada ritmenya. Jikalau
memaksakan semuanya, melodinya
Kamu
percaya, ‘kan? Masih bisa bersabar, ‘kan?
Tuhan
tau kok apa maumu. Tapi dia lebih memprioritaskan apa yang kamu butuhkan. Walau
terkadang, jalan menurut keputusan-Nya begitu sukar dirasa. Tak mengapa. In sya
Allah akan selalu ada hikmahnya.
Terimakasih
sudah mau bertahan hingga detik ini. Semoga selalu sehat. Biar bisa ngejemput
mimpi-mimpinya yang sudah dilangitkan bersama doa dan harapan. Jangan putus
asa. Nikmati jalanmu. Kau tau apa yang kau mau. Semoga ada banyak kebahagiaan
menghampiri hari-harimu.
Salam
hangat,
@thiyyaeladzkia
Orang
yang begitu sangat menyayangimu

Komentar
Posting Komentar